Hamparan Gulma Ungu Indah di Istana Para Dewa (Semeru)

Gunung Semeru, tentu saja semuanya pada tahu. Gunung yang terkenal dengan pesona puncak Mahameru dan keindahan Ranu Kumbolo ini ternyata mempunyai sisi lain yang jarang terekspose. Sisi lain itu yakni adalah hamparan bunga ungu yang terbentang luas di Oro-oro Ombo. 




Banyak yang menyebutnya "Lavender", tapi ternyata si Ungu ini bukanlah Lavender. Si Ungu ini mempunyai nama latin yakni "Verbena Brasilliensis" yang berasal dari Amerika Latin. Si Ungu ini berasal dari keluarga Verbenaceacce yang merupakan tumbuhan semak tahunan atau berumur pendek. Tanaman ini tumbuh tegak setinggi antara 1,5 sampai 2 meter dengan batang segi empat seperti keluarga Verbenaceace lainnya serta berbulu kasar. Cabang atas panjangnya 4-9 cm berpasangan dan naik. Daun berpasangan (composit) berbentuk bulat memanjang sederhana dan bergerigi (serate) dengan panjang 4 - 10 cm dan lebar antara 0,8 - 2,5 cm. Perbungaan silinder pada ujung cabang umumnya 3 silinder yang berukuran 0,5 - 7 cm dan berdiameter 0,5 - 0,7 cm. 
Bunga berwarna ungu yang muncul dari silinder kadang-kadang tiga kuntum bersamaan. Verbena Brasilliensis memproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih. Tanaman ini mulai tumbuh hingga mengering sepanjang Januari-Agustus.

Si Ungu ini banyak sekali berada di Oro-oro Ombo. Hampir padang rumput atau savana seluas itu kini dipenuhi oleh si Ungu tersebut. Jika kita mau menuju puncak maka selepas Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta atau saat perjalanan dari puncak setelah Cemoro Kandang maka Anda akan menemukannya atau sampai di tempat yang bernama Oro-oro Ombo. Memang jika dilihat begitu indah dan menarik layaknya padang bunga di negeri dongeng. Tapi yang perlu Anda ketahui tanaman ini sebenarnya adalah tanaman invasif yakni bersifat merusak. 

Tanaman ini kini menguasai lahan seluas 20 an hektar oro-oro Ombo yang sebelumnya hanya berupa padang rumput. Meskipun sangat indah karena kombinasi warna hijau dan ungu yang membentuk landskap mirip dengan taman bunga di Eropa seperti Belanda dan Perancis tapi itu tak berarti baik bagi Semeru. Ada ancaman ekologis di balik keindahannya itu. Tanaman ini bisa menjadi masalah serius seperti halnya Salvina Molesta (kiambang atau kayapu) yang sempat menutupi permukaan air Ranu Pane atau serangan akasia berduri (Acacia Nilotica) di Taman nasional Baluran yang sampai sekarang belum sepenuhnya teratasi.

Meski tampak indah kehadiran si Ungu ini justru mencemaskan. Tanaman asing ini jika dibiarkan bisa mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli TNBTS seperti sabana di Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Jambangan, Kalimati. Jika itu terjadi ekosistempun akan terganggu.

Banyak yang menduga tanaman ini masuk ke kawasan TNBTS pada masa kolonialisme. Berdasarkan buku Flora Pegunungan Jawa karya Van Steenis. 

Kini Verbena Brasilliensis menyebar hampir merata di wilayah Semeru bagian barat di tepi jalan dari Coban Trisula hingga Ranu Pane, Padang rumput dan riparian Ranu Regulo, zona riparian Ranu Pane, Ranu Kumbolo, sepanjang jalur pendakian Ranu Pane - Cemoro Kandang, selain itu tanaman ini juga sudah memenuhi sabana di Gunung Bromo.

Untuk mengatasi atau memusnahkan tanaman ini yakni dengan cara pembabatan atau dengan mencabut secara berkala sebelum musim berbunga. Pemusnahan dengan cara menggunakan herbisida dan pembakaran sangat dilarang. Namun hingga sampai saat ini belum ada upaya penanggulangan yang benar-benar dilakukan.





0 Response to "Hamparan Gulma Ungu Indah di Istana Para Dewa (Semeru)"

Post a Comment

Trending Posts